MERENGKUH ASA, MENGGAPAI GUNUNG BUNDER

Akhirnya tiba juga libur akhir tahun, lumayan seminggu liburan ini memang sudah saya rencanakan dari awal Desember untuk bertandang ke rumah ortu istri di Ciampea Bogor.
Tepat tanggal 29 Desember 2008 sekitar jam 6.00 wib, saya keluarkan si KONA dari garasi rumah beserta perlengkapan logistik yang lain sudah saya persiapkan didalam tas.

Matahari di Bekasi saat itu masih malu-malu mengintip di balik awan yang tebal, saya kayuh si KONA melewati perkampungan belakang Perumahan Bekasi Timur Regency…hmm.. udara yang masih segar, pohon-pohon yang masih rimbun serta sawah-sawah yang tengah merekah ditumbuhi tanaman padinya.

Gowes langsung ke Bogor rasanya terlalu lama dan akan menghabiskan banyak tenaga dan khawatir tidak dapat menikmati alam di Gunung Bunder. Karena itu saya putuskan untuk naik kereta bersama si KONA.
Dalam perjalanan terbersit dua pilihan stasiun keberangkatan antara Cawang atau Tanjung Barat dan karena bimbangnya saya putuskan jalan melalui Jatiasih, Jatiwaringin dan Pondok Gede.

Disekitaran Jatiwaringin tiba-tiba hujan kecil datang dan untungnya tidak terlalu lama sehingga tidak menyebabkan baju dan celana kebasahan.
Akhirnya pilihan saya putuskan ke Tanjung Barat, sampai distasiun jam 7.14wib. Setelah beli tiket dan menunggu sekitar 15 menit akhirnya datang kereta jurusan Bogor.
Saya angkat si KONA melewati feron menuju gerbong sesampainya didalam banyak mata tertuju pada saya, sepertinya banyak pertanyaan, heran, aneh atau apalah dari tatapan mata mereka.

Seperti biasanya kereta ekonomi selalu dipenuhi penumpang dengan barang-barang bawaan dan dagangan, satu yang saya takutkan jika naik kelas ekonomi sesampainya di Bogor si KONA malah jadi tape Bogor namun untungnya kondisi saat itu tidak penuh dan tidak perlu berdesak-desakan…

Setelah sampai di stasiun Bogor, saya kayuh kembali si KONA. Hufff…tanjakan tinggi di Gunung Batu tak mampu saya taklukkan terpaksalah saya tuntun hingga ke atas pertigaan arah Ciomas. Jalan selanjutnya adalah turunan landai, dengan maksimal saya tambah kecepatan melewati mobil dan motor yang terjebak kemacetan disebuah pertigaan.

Jam 9.25 wib akhirnya sampai juga di rumah mertua, disambut sang istri yang sudah sampai lebih dulu kemarin serta anggota keluarga yang lain. Perjalanan dengan si KONA sekitar 3 jam lebih tidak terlalu jauh jarak waktunya dengan berkendaraan motor.

Dua hari berikutnya jam 7.38 wib start dari Cibanteng Ciampea. Beruntung hari ini sepertinya cerah atau berawan padahal kemarin sempat hujan besar,,,hmmm momen yang baik sepertinya untuk manjat gunung….

Setelah jauh meninggalkan rumah dan memasuki daerah Cikampak mulailah dihadapkan pada tanjakan-tanjakan. Sebenarnya ada angkot yang kearah gunung bunder tapi kalau dinaikkan keangkot rasanya akan kurang nikmat dibanding dikayuh dari bawah.

s7300167Butuh waktu kurang lebih 4 jam untuk mencapai kepuncak dan harus diselingi beberapa kali istirahat, padahal jarak satuan kurang lebih 20 s/d 30 km dari lembah hingga ke puncak atau kurang lebih satu jam ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Sungguh perjalanan kali ini sangat melelahkan, dari awal berangkat hanya satu kali diberikan bonus turunan selebihnya tanjakan dan tanjakan.

Istirahat terakhir menuju puncak disebuah warung kecil dipinggir jalan.  Suasana dingin dan aroma pegunungan sudah sangat terasa disini rasa laparpun menghinggapi perut yang sedari pagi hanya baru diisi dengan 2 potong roti yang saya beli di supermarket Al Amin malamnya. Sebungkus mie rebuspun sepertinya bisa mengatasi masalah diperut ini yang sudah meraung-raung sedari tadi. Wah nikmatnya sebungkus mie dan akan lebih nikmat lagi jika seandainya saja diwarung itu menjual nasi pula.

Setelah selesai menghabiskan mie perjalan saya lanjutkan kembali. Sebelum memasuki kawasan wisata satu tanjakan tinggi, panjang dan berliku harus dilalui,,,huff sampai terasa berkunang-kunang mata dan pikiran ini menanjak tanpa berhenti mengayuh pedal. Tak berapa lama dari kejauhan tampaklah sebuah gapura yang dijaga beberapa petugas tiket, didalamnya sangat rimbun dan tinggi pepohonan.

Masih dalam keadaan terengah-engah saya menghampiri petugass73001741 tiket.

“Berapa orang pak?” tanya si petugas. “Cuma sendiri pak” sambil saya mengambil dompet didalam tas.

“Koq sendirian aja, emang temennya pada kemana?” tanya si petugas lagi. “Iya nih pak, lagi bertandang dirumah saudara jadi nggak ngajak temen, emang disini suka ada yang sepedahan juga pak?” sambil saya memberikan uang sebesar Rp. 20.000 kepadanya.

Terakhir saya kesini sekitar satu tahun yang lalu dan setiap kali kesini tidak pernah bertemu para biker, rata-rata pengunjung di wana wisata ini para pengendara motor yang masih abg.

Rupanya sudah ada juga biker yang kesini, terakhir kata sipetugas tiket hari minggu tanggal 28 Desember lalu ada satu rombongan sepeda kewana wisata ini.

Setelah menerima kembalian Rp. 16.000 saya kembali melanjutkan perjalan. Wuiiihh dingin sekali disini padahal hari sudah siang, saya lihat dis73001781 jam handphone waktu sudah menunjukkan pukul 12.20 wib.  Suasana hutan yang sangat lebat, dikiri jalan mengalir air-air jernih dari mata air yang terpancar dan sebelah kanannya jurang yang dibawahnya pohon-pohon cemara.

Disini ada beberapa kawasan wisata yang menarik namun sebagian besar adalah pemandangan air terjun. Tujuan saya kali ini adalah mencapai curug Cingumpet. Airnya besar dan jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk, mungkin sekitar 2 atau 3 kilometer lagi. Yah lagi-lagi tanjakan belum juga selesai dilalui, masih ada lagi beberapa tanjakan tinggi untuk mencapai curug ini padahal badan ini sudah sangat letih sekali.

Saya coba paksakan karena saya yakin pasti bisa. Akhirnya setelah sebuah turunan tampaklah sebuah sungai dengan bebatuan cadasnya dan di hulu sungai sana terdapat sebuah pemandangan indah ciptaan Tuhan.

s7300203Melalui pintu masuk dan membayar tiket Rp. 3.000 saya bawa si KONA dengan memanggulnya melewati bebatuan sungai. Jernihnya air dan derasnya suara air terjun semakin menambah semangat lagi untuk mencapai lokasi. Setelah berlicin-licin ria akhirnya diujung tebing nampaklah air deras menuruni tebing diantara pepohonan.

Banyak yang melihat heran dengan saya, sendirian bersepeda, manggul-manggul melewati sungai dan bersusah payah membawa sepeda sampai ketempat air terjun.

Yah…begitulah sudah saya niatkan sekali dari awal, bagi saya sepeda itu ibarat candu. Kemana pun juga inginnya selalu bersepeda, seminggu tidak bersepeda malah badan ini terasa pegal-pegal. Mungkin kalau ada yang bilang sepeda ketinggalan jaman, sekarang jamannya otomotif dan serba cepat, hmmm sepertinya dialah yang ketinggalan jaman dan tidak konsevatif. Jalan-jalan kota yang macet sana ini, kelangkaan BBM yang mulai terjadi, pemanasan global adalah efek samping ketergantungan kita terhadap moda transportasi yang tidak ramah lingkungan.

s73002181 Setelah memandikan si KONA dan menikmati kesegaran alam saya beranjak pulang dan pastinya memanggul sepeda lagi melewati bebatuan cadas dan licin. Kira-kira pukul 14.15 wib sampailah saya dijalur single trek namun karena perut ini menagih lagi saya mampir sebentar diwarung untuk menambah karbohidrat. Sebuah jagung bakar cukup untuk menambal keroncongan diperut, hmm rasanya manis sepertinya jagung ini masih muda dan belum cukup untuk dipanen.

Selesai menikmati jagung bakar, perjalanan saya teruskan memasuki single trek yang terdiri dari bebatuan makadam dan licin pula, melewati kampung-kampung dan area persawahan. Turunan yang tinggi dan curam seerta berliku-liku.

Ketika melewati perkampungan, anak-anak yang ceria dalam bermain bapak-bapak dan ibu-ibunya yang ramah membuat hati ini rindu dengan suasana saya semasa kecil. Yang dulu dikampung masih kental dengan suasana pedesaan tetapi kita terusik  akibat perkembangan pembangunan kota dan perluasan suburban. Alangkah indahnya tinggal didesa, suasana segar tanpa polusi dan semoga saja daerah itu akan tetap seperti itu.

s73002461Hari semakin sore, jam di handphone menunjukan pukul 15.13 wib. Kembali saya pacu sepeda melewati turunan bebatuan. Kali ini saya melewati sungai Ciampea, tidak ada jembatan dan terpaksa sepeda di panggul lagi sambil berpijak pada batu-batu cadas yang besar.

Waktu terus berpacu dan badan ini sudah peluh dengan keringat, rasa panik menghinggap dipikiran saya. Bagaimana tidak saya belum pernah mengenal daerah ini, tak ada panduan GPS hanya petunjuk lisan oleh para warga saja yang saya jadikan pegangan.

Akhirnya pukul 16.00 wib saya memasuki daerah Cinangneng, lurus kedepan terus tembus Cibanteng. Sampai rumah kembali sekitar jam 17.00 kurang. Seluruh badan terasa cape namun semua itu terbayar sudah. Satu asa  dalam bersepeda tercapai sudah.

Foto-foto lengkap dapat dilihat disini

2 Tanggapan

  1. Phat blogpost, amazing looking weblog, added it to my favorites.

  2. manteeeppp Omm… :))

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: