Gowes Tersadis Bersama The Master of Asem Bike

Satu lagi pengalaman gowes. Kejadiannya Minggu 22 Februari 2009 lalu dan benar-benar diluar rencana. Ijin sama orang rumah hanya sepedahan sebentar aja sekedar cari angin segar paling nggak jam 10 atau jam 11 dah balik lagi karena memang kondisi jalan yang becek, malamnya habis hujan deras.

Berangkat dari rumah dah agak siang jam 8 gowes menuju pangkalan Asem Bike, siapa tau ada yang mau nemenin! Sampai di Asem salam-salaman sama biker yang sudah tiba lebih dulu dan duduk-duduk lah sambil ngobrol.

Nggak terasa ngobrol a i u e o ternyata udah jam sembilan lebih. Akhirnya banyak biker yang pada balik pulang katanya sudah keliling-keliling.
Pas jam setengah sepuluh ada woro-woro dari para “The Master” mau makan gabus plus jengkol di Telajung.

“Ah Telajung mah deket paling lama satu jam juga nyampe, ikut ah” pikir saya dari pada gowes ga ada tujuan.
Sebelum berangkat Master Asep bilang kalau track tanah nggak mungkin bisa dilewati karena itu hanya track aspal dan berbatu saja yang akan dilewati. Semua setuju termasuk saya yang anti lumpur….

Master Asep memimpin didepan. Melewati Graha Harapan, memasuki perkampungan. Pada suatu pertigaan kami berhenti sebagian ada yang membersihkan tanah yang menempel di roda sebagian lagi menenggak minuman.

“Kalo kekiri ke danau (Cibeureum) nih sepertinya ga mungkin lewat jalan tanah, kita ke kanan aja yach yang agak berbatu” kata Master Asep sambil diamini oleh semuanya.
Asep tetap memimpin didepan, jalan-jalan yang dilaluinya berbatu dihiasi kubangan-kubangan air yang legok. Sesekali dari kami ada yang memasuki kubangan itu sehingga memberikan cipratan air kebelakang dan kesampingnya.

Gowes terus mengikuti jalan berbatu dan memasuki perkampungan. Disuatu ujung jalan kami terjebak, jalan berbatu telah sampai pada ujungnya, didepan telah menghadang hamparan sawah.

Sebagian dari kami ragu-ragu mau menerobos tetapi Master Asep menyalip diantara kami yang telah berhenti. Terpaksalah kami mengikuti.
Bress…bresss.. terdengar enam kali cipratan air, sebuah saluran air kecil menuju kesawah dilibas oleh enam biker.

Tak jauh setelah meninggalkan saluran air tersebut terdengar di depan saya “Brakk” Pak Sahirin terjerembab masuk kesawah. Dia terjatuh ketika kakinya berusaha menahan sepeda tetapi pijakannya terlalu lembek sehingga terperosok kesawah.

Kedepan saya lihat Master Asep makin jauh meninggalkan yang lain dan kemudian berhenti dibawah pohon pinggiran sawah.
Setelah semua berkumpul membersihkan ban dan menenggak minuman gowes dilanjutkan lagi. Kali ini tidak menemukan jalan berbatu “fullsoil” sehingga tidak berapa lama tanah sudah menempel lagi diban.

Asep tetap melaju, tanah yang menempel dibannya tidak dihiraukan. Gowes semakin kencang dan sesekali dia melakukan bunny hop dengan maksud supaya tanah yang menempel diban bisa terlepas.
Sebagian yang lain merasa kesulitan karena tanah yang menempel sudah tebal dan menghambat laju roda.

Lagi-lagi jalan kampung telah sampai diujungnya dan sawah didepan sebagai salah satunya jalan.
Wuzzz….enam biker melaju ditengah-tengah sawah. Semua gowes dengan cepat seperti kesetanan.
Tiba-tiba…Brukkk. Didepan saya lihat Asep terjatuh. Meringis sambil mengelus dadanya. Rupanya ketika terjatuh stang sepeda mengenai dadanya.

Semua berhenti sejenak. Setelah Asep merasa baikan dan tidak ada masalah gowes diteruskan lagi.
Setelah melewati sawah track kembali melalui jalan aspal dan berbatu. Tak berapa lama kami sampai di pangkalan sengon. Satu biker dengan tunggangan Giant (maaf waktu itu belum sempat kenalan) menyerah dan tidak ikut lagi. Tinggallah kami berlima.

Gowes dilanjutkan lagi. Track melalui Cijengkol berjalan aspal dan beton namun tak berapa jauh kembali melalui jalan tanah dan lengket. Terus menelusuri jalan akhirnya tembus di jalur pipa gas, tanah semakin lembek dan lengket.

Pak Asep dan Pak Sahirin benar-benar kesetanan. Melaju kencang dan jauh didepan sedangkan saya bertiga dibelakang rada kewalahan.
Saya tertinggal paling belakang setelah roda depan masuk kekubangan tanah dan tak bisa digowes lagi.

Diujung track sana sudah menunggu saya, setelah berkumpul lagi saya bersihkan semua tanah yang menempel.
Disitu ada selokan atau sungai kecil. Byuuuurr…sepeda saya masukan keair supaya tanah yang menempel lekas terlepas. Yang lainpun akihirnya ikut-ikutan kecuali Pak Asep.

“Ayo jalan lagi!!!” seru Pak Asep.
“Waaakks mau minum dulunih, duluan aja deh….” Ucap saya.

Setelah menenggak beberapa tegukan air sepeda kembali saya kayuh. Dari sini stamina saya sudah benar-benar berkurang rasa letih sudah mulai menyerang.

Melewati jalan raya Burangkeng kemudian menyeberang ke desa Cileduk menuju desa Serang. “Gile mau ke Telajung diputer-puter kaya gini” gumam saya dalam hati.

Ketika melewati daerah pemakaman track kembali fullsoil. Ban kembali lengket dengan tanah dan sepeda terpaksa dituntun. Saya sudah berkepikiran untuk balik kanan sudah mau menyerah, tidak sesuai dengan rencana awal yang tidak akan melewati jalan tanah. Tapi ada yang aneh dengan saya, masih saja mau mengikuti…..

Disini kami berhenti lama menunggu Pak Ujang yang tertinggal dibelakang. Setengah jam sudah kami menunggu tapi Pak Ujang tidak juga muncul, mau disusul kebelakang jalannya tanah dan pastinya lengket lagi.

Semua sepakat meninggalkan Pak Ujang.
“Sepertinya dia balik, ga mungkin selama ini kalau masih mau terus. Kita tinggal saja lah….” Kata Pak Sahirin.
“Wah yang master-master aja udah pada nyerahnih, ikut terus ga yach??!!” bimbang saya dalam hati.

Ketika masih dalam kebimbangan mereka bertiga telah meninggalkan saya. Akhirnya karena takut tertinggal jauh saya mengikuti lagi.
Track melalui jalan aspal, jalan berbatu, kubangan air dan Lumpur.

Gowes saya makin lama makin tak berirama dan sudah tertinggal jauh.
“Kemana nih? Wah saya ditinggal…..”

Ternyata diujung pertigaan sana mereka sudah menunggu saya. Bukannya menunggu dulu sampai berkumpul lagi mereka malah gowes lagi meninggalkan saya.

“Gile banget dah…boro-boro bisa minumnih istirahat sebentar aja kagak bisa!!!” Kesal saya dalam hati.

Di setiap pertigaan mereka menunggu saya dan pastinya jika sudah melihat saya mereka langsung meninggalkan lagi.
“Kayak ngejar setoran aja nih, sopir angkot aja ngejar setoran kagak kaya gini…..” Saya semakin putus asa. Tapi sudah kesal seperti itu anehnya koq saya masih mau ngikutin, wah kesambet setan apanih?

Kondisi seperti ini sudah sama saja dan serba salah. Ibarat kapal ditengah laut dalam badai, ikut terus makin terombang ambing mau nyebur malah tenggelam….

Track berat yang terakhir adalah kembali melewati sawah. Kali ini benar-benar berat, lumpurnya sangat dalam hingga roda belakang saya slip dan terjatuh.

“Gile, bener-bener kejam deh pada. Kagak ada yang noleh kebelakang satupun….malah ngacir terus.”
Baju dan ransel sudah berganti warna demikian pula sepeda sudah lebih mirip traktor sawah supermini. Parahnya lagi sepeda sudah bersenandung pletak pletok krakat krikut. Rantai sudah dilumasi lumpur tak kalah pula dengan rear derailleur dan front derailluernya sudah banyak tambahan aksesoris tanahnya.

Gowes makin gontai, tenaga seperti sudah tak lagi sampai kekaki.
Huuuhh…masih jauh lagi. Diujung sawah dipertigaan jalan saya berhenti sejenak tidak memperdulikan para The Master yang sudah menunggu saya diujung jalan sana.

“Kelurahan Telajung masih jauh ga Dik dari sini?” Tanya saya kepada dua orang bocah yang sedang berboncengan sepeda.
“Ga pa dikit lagi, lurus aja terus itu…..” Jawab mereka yang rada aneh melihat penampilan saya yang kacau balau.

Kembali saya gowes sepeda sedangkan para The Master sudah tak lagi nampak batang sepedanya.
Tak lama kemudian saya melintasi kantor kelurahan Telajung, setelah melewati beberapa tikungan akhirnya sampai juga ditempat tujuan.

Para The Master sudah lebih dulu tiba, sepeda mereka sudah dibersihkan. Saya melihat ke jam di handphone sudah menunjukkan pukul 12 siang pas. Dua setengah jam muter-muter dijalan rasanya mau pingsan. Langsung saja saya selonjorkan kaki melemaskan otot-otot yang kaku dan tegang.

Setelah membersihkan badan dan pakaian yang melekat lumpur, kamipun memesan makan.
Sang Master Asep memesan gabus dan jengkol plus teh manis hangat. Tak ketinggalan pula saya kikil, tempe dan pastinya jengkol tak boleh ketinggalan.
Katanya sih jengkol bisa buat percepatan sirkulasi stamina, tapi jangan percaya deh itu cuma kata saya saja…..hihihihihihi.

Kami beristirahat kurang lebih satu jam. Sekitar jam satu kurang kami beranjak lagi.
Semoga setelah makan ini tenaga cepat pulih kembali sehingga bisa mengimbangi para The Master.

Dari Telajung kami keluar kejalan raya Setu Cileungsi. Diperempatan perumahan Mutiara Gading tiba-tiba rombongan terpecah. Master Asep kearah kanan sedangkan Master Sahirin lurus.

Sempat bingung ikut yang mana, akhirnya saya putuskan ikut Master Sahirin tetapi dia sudah sangat jauh didepan. Saya coba kerahkan seluruh tenaga tapi rasanya sia-sia takkan mungkin terkejar.

Sempat bertanya-tanya saya sendiri, Dengkul mereka bahannya apa yach? Gowesannya bener-bener kesetanan. Beda banget dengan saya yang hanya mampu mengimbangi irama mereka hanya pada satu jam pertama saja, dan setelah itu empot-empotan saya dibuatnya. Benar-benar salut deh buat mereka The Master of Asem Bike.

Terus terang aja saat ini saya masih kapok ikut The Master pada track basah, masih harus banyak berguru dulu sebelum terjun dengan mereka lagi.

Terakhir sekedar saran aja bagi para newbie, khususnya seperti saya ini.
Kalau diajak oleh para The Masternya pada saat track basah benar-benar harus siap mental karena kalau tidak bakal menyusahkan diri sendiri, kecuali bagi yang suka nyusahin diri sendiri…..hehehehehehe

Satu Tanggapan

  1. He.he.he.bung, memang gowes ini itu menyiksa tetapi ketagihan…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: