SUKARNYA BERBURU PSK

Kriiiing…kriiing…. Terdengar bunyi nada dering di HP sebanyak dua kali. Tepat seperti dugaan saya sebelumnya, pasti Om Teko atau Om Jli yang telpon.

“Dimana Om Robby?” Tanya Om Teko diujung telpon.

“Saya baru mau berangkat Om, maaf nih kesiangan” Jawab saya sembari tergesa-gesa.

“Saya sudah dirumah Om Jli, ya udah ditunggu yach” Kata Om Teko mengakhiri percakapan di telpon.

Hari itu Kamis, 26 Maret 2009 sekitar pukul 5.30 pagi dengan tergesa-gesa saya berangkat dari rumah. Janjian di milis kumpul di sekre rumah Om Jlitenk jam 5.30 pagi tapi ini baru berangkat dari rumah jam 5.30 wahh jam karet nih…. Maaf yach Om jadi bikin Om-Om nunggu.

Dengan sekuat tenaga sepeda saya kayuh secepatnya. Melewati area pesawahan hingga akhirnya tembus di ujung perumahan Taman Narogong, keringat pun sudah banyak bercucuran. Diujung perumahan Taman Narogong ini kali pertamanya saya pernah tersasar sewaktu mencari sekre Robek, maklum no dan blok rumahnya sama.

Ketika sampai dirumah Om Jlitenk semua sudah menunggu saya. Sepedapun langsung dibongkar untuk kemudian disusun berlapis empat dalam APV-nya Om Teko. Setelah selesai loading kami beranjak menuju tol Bekasi Barat, tepat di depan Ramayana telah tiba lebih dulu Om Blacken dan Om Aziz yang masih menunggu seorang teman lagi. Setelah semua team lengkap kamipun berangkat beriringan menuju Sentul City lokasi berburu kali ini.

Total jumlah peserta berburu kali ini mencapai 30-an orang, Sekitar jam 8.00 rombongan beranjak dari tempat kumpul setelah sebelumya di briefing dulu oleh Om Jo tentang teknik dan cara yang jitu berburu PSK menggunakan sepeda.

s73004872Trek pertama melalui jalan aspal yang landai dan datar, lumayan sebagai pemanasan. Tak berapa lama mulailah tanjakan disusul turunan lalu tanjakan lagi. Kali ini suasana masih penuh suka cita semua menikmatinya bahkan sebagian masih sempat tertawa-tawa.

Hingga akhirnya sampailah pada sebuah tanjakan tinggi. Huff…ngos-ngosan saya dibuatnya. Di ujung tanjakan itu terdapat saung sejenak kami beristirahat memulihkan stamina, akhirnya sebagian dari kami memutuskan ikut truk keatas puncak untuk menghemat tenaga sebagian lagi tetap gowes.

“Ayo ikut truk aja ngga usah tengsin, dari pada ga kuat nanjak ntar digotong…” Ajak Om Teko sambil tongolin kepalanya dari kaca truk.

“Sorry layaw, kita kesini buat nggowes bukan naek truk. Kalo naek truk sih anak kecil juga bisa. Wleee…” Ledek Om Tony.

“Ayo men-temen jaraknya ga jauh koq cuman 11 km doang, enteng lah…” Ajak Om Tony penuh semangat kepada team gowes.

Hanya dalam sekejap mata Om Tony, Om Blacken etc sudah ngabur didepan tak tampak lagi batang sepedanya hanya sesekali saya lihat penampakan dari The Blackghost dan Om Suhardiyanto, sedangkan saya dibelakang termohok-mohok (udah bukan termehek-mehek lagi). Gile bener tenaga mereka semua kayak tenaga Ducati melesat cepat meninggalkan saya jauh yang masih bermesin Kawasaki.

s73005051Saya melihat Si Hantu Hitam sedang bertapa diatas batu, sekuat tenaga saya coba mengahampirinya namun dalam sekejap mata Si Hantu Hitam telah berpindah tempat lagi. Memang Si Hantu Hitam ini paling jago berpindah tempat dalam sekejap mata, barusan masih bertapa diatas batu kini dia sudah bertapa dibalik bilik nan keramat diatas bukit.

Akhirnya sampai juga ditempat kumpul kedua. Semua team sudah berkumpul lagi termasuk “Team Truk” dan perjalanan berburu kembali dilanjutkan. Kali ini sudah mulai memasuki single trek, daerah yang sepi dari pemukiman penduduk kanan kirinya jurang yang terjal. Clingak clinguk saya kekiri kanan dan belakang, rada merinding didaerah sepi seperti ini takut-takut yang menemani saya The Whiteghost kalo The Blackghost sih sudah biasa….

Banyaknya bebatuan lepas dan besar serta tanah yang lembek makin menyulitkan saya sekalipun sudah TTB. Ditengah derita menanjak sekelentingan petuah keluar dari mulut Master Jlitenk.

“Wadaw sepeda saya jangan dipegangin dong Om..!! Ini Om Robby lagi jangan ngalangin jalan saya ngapa…!!”.

Bujrak dah orang dia masih jauh dibelakang saya, koq teriak-teriak ada yang megangin dan ngalangin jalan. Mungkin Master Jli ini sedang diganggu oleh Si Hantu Putih.

“Om Jli, Om kan punya ilmu kanuragan saatnya untuk di tes Om..” Teriak saya dari kejauhan.

Master Jli pun turun dari tunggangannya, diapit kedua tangannya tepat dibawah dagunya sambil mulutnya komat-kamit baca mantra. “Cueh…cueh..cuehh”. Dia berludahs73005201 sebanyak empat kali kedepan belakang kiri dan kanan. Brusss….waktu itu terasa desiran angin disekililingnya hingga menghentak kesaya pula. Suasana kembali hening, Master Jli pun kembali menaiki tunggangannya. Telah berhasil mengusir Si Hantu Putih rupanya dia.

Tak berapa lama melintas melewati kami dua orang putih-putih tapi bukan hantu putih.

“Abas, Abas” Katanya.

Dengan sigap disahutin Om Teko. “Wooi…Abas ga ikut dimari…Noh dia disono dirumah Pak Mahmut lagi kondangan”.

“Bukan abas itu maksud gue, minggir luh pada….” Jawabnya kesal karena diledekin.

“Loh koq, abas itu minggir sih…@#$%!” Om Teko tambah bingung sambil garuk-garuk rambutnya yang sudah mulai beruban.

Akhirnya setelah melewati berbagai rintangan saya melihat sebuah pondokan terpencil. Suasana yang sepi dan jauh dari pemukiman membuat saya bertanya-tanya. Inikah tempat yang dituju? Ternyata usut punya usut pondokan ini yang sering disebut-sebut orang sebagai Pondok Pemburu.

s73005281Sekitar jam 12-an kami telah sampai di Pondok Pemburu istirahat sekaligus refill persediaan dan logistik. Setengah harian menanjak membuat sebagian kalap menyantap mie instant termasuk saya yang bukan hanya kalap menyantap mie tapi juga wafer yang ada dimeja. Saya kira wafernya punya yang jualan eh tau nya punya salah satu rider. Makasih ya Om, jadi malu saya abis makannya banyak banget sih…

Sukarnya berburu PSK hingga memakan korban, sepeda Om Diding rusak. Kuku macan di freewheelnya habis tergerus. Dokter Jeli dan dokter Wahyu pun mendiagnosa tidak mungkin disembuhkan saat ini. Wah mau ga mau ttb terus nih Om kecuali kalo turunan….

Perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini sudah lebih banyak turunan tapi tetap saja sebagian turunan tersebut tidak bisa digowes. Nanjak ttb turun juga ttb, kalau waktu di Pondok Pemburu ada juga sih yang TTB dan jadi pusat perhatian para pemburu Robek…Ting ting booooo.

Kesal karena ttb terus saya paksakan untuk menunggangi si Kona, wal hasil “kdbugg” saya terjatuh dan nyaris terperosok masuk kejurang untungnya ada tanaman perdu dan ilalang menahan tubuh saya.

Cihuiyyy akhirnya ada turunan mengasyikkan. Wuzzzz….kira-kira kecepatan sepeda mencapai 60kpj, kira-kira aja deh abis ga punya cyclometer sih. Kalo kecepatan kayak ginisih saya bisa ngebalap Valentino Rossi, tapi bukan di Motogp deng itu juga kalo dia mau naik sepeda.

Hufff….sementara turunan selesai kembali kepada tanjakan lagi. Semua gowes perlahan. Tiba-tiba terdengar suara “brutt” disertai bau tak sedap.

“Gile, bau apaanih. Perasaan disini ga ada sumber belerang …”. Teriak saya.

Setelah saya lihat kedepan ternyata Om xxxx (nama disensor) memegangi perut sambil mengangkat bokong. “Sorry Om, ane ngeluarin noz dulu biar larinya makin kenceng nih”. Jawab si Om.

“Walah, situ larinya makin kenceng. Kalo saya bisa modar ditengah jalan nih…” Protes saya.

“Hehehehe…sorry Om, sorry… kalo ditahan jadi penyakit soalnya.” Jawabnya lagi.

Gile, masih semepet-sempetnya dia buang noz dulu, emang paling-paling dah…

Tiba-tiba ditengah jalan rombongan terpecah-pecah dan saling menunggu. Ada yang sudah meluncur lebih dulu ke Sentul, ada yang masih dihutan sedangkan saya dan beberapa rider menunggu diwarung pertigaan Gunung Pancar.

Hari makin sore dan langit mulai menunjukkan tanda-tanda akan datang hujan. Setelah menunggu sekians73005571 lama team dibelakang tak juga kunjung datang akhirnya kami menitip pesan kepada empunya warung untuk mengarahkan kearah kami pulang.

Tak lama hujanpun turun. Asik bebek-bebekan….Untung sudah sedia jas hujan. Hujan makin deras namun sepeda juga meluncur makin cepat dijalan aspal. Setiap kubangan air saya libas habis, setiap ada tanggul saya angkat sepeda seperti gerakan bunny hop. Sepeda yang tadinya penuh lumpur kini bersih kembali, hingga pada suatu jalan terdapat kemacetan karena badan jalan yang sempit untuk dilalui dua mobil berlawanan arah saya bermaksud menyalip dari arah kiri namun tiba-tiba “bress”, sepeda saya masuk ke got. Untungnya got itu tidak dalam.

Setelah bersusah payah melintasi tanjakan tak berujung, menuruni bukit terjal nan extrim ditambah lagi guyuran hujan akhirnya sampai juga ditempat semula. Lalu bagaimana dengan tujuan berburu PSK-nya? Setelah semua team telah lengkap akhirnya kesampaian juga berburu PSK-nya.

Huah..mantap benar PSK disini, selain masih abg, montok dan kenyal tarifnya juga tidak terlalu mahal. Mau dihajar ditempat bisa dibawa pulang juga bisa, mau booking short bisa long juga bisa. Tergantung kemauan kita sendiri. Apalagi setelah seharian bersepeda, capek dan letih teman-teman terlihat kalap dan menikmati sekali PSK-nya. Terutama teman-teman yang menggunakan sepeda dual suspension goyangannya makin mantap aja….

Selesai sudah trip kali ini dengan promotor utamamya ROBEK, dilengkapi oleh team-team yang solid ,kompak dan kocak menjadikan saat berburu Penggemar Sate Kiloan-nya terasa menyenangkan meskipun sukar dan berat dalam perjalanannya.

95% cerita ini nyata, cuman 5% aja yang ditambah dan dikurangi.

Foto-foto : http://cahyadir.multiply.com/photos/album/20/SUKARNYA_BERBURU_PSK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: