KETIKA HUTAN JAYAGIRI TAK LAGI SUNYI

Sebenarnya ragu-ragu memutuskan untuk ikut trip Robek dan Roger kali ini karena semingu sebelumnya saya terkena anemia berat akibat kurang istirahat. Malam sabtu seminggu sebelumnya setelah main futsal bersama teman-teman kantor tumben-tumbenan saya tak langsung bisa tidur, akhirnya menghabiskan separuh malam di depan TV. Dilanjut malam berikutnya begadang hingga pagi bersama teman-teman satu komplek.

Tentu saja, esok paginya kepala terasa pening dan badan terasa pegal semua karena memang saya tak terbiasa tidur malam sudah itu memang telah lama saya mempunyai penyakit anemia, sering merasa kesemutan dan kepala sering “klieng-klieng” bila bangun dari jongkok.

Terobsesi dengan banyaknya peserta yang daftar akhirnya saya memutuskan ikut. Kesempatan jarang terjadi, nanti jangan mau kalau diajak gowes nanjak, ikut truk aja, kali-kali bolehlah ikut trip untuk “senang-senang” …hihihihi…. Demikian rencana yang saya pikirkan sedari jauh hari.

Akhirnya hari itu datang juga. Sabtu 9 May 2009 jam 6 pagi sebuah truk marinir khusus mengangkut 68 sepeda dan sebuah bus marinir yang mengiringinya dibelakang menuju Tangkuban Perahu.

Pintu masuk Cikole

Pintu masuk Cikole

Berangkat dari Bekasi sekitar jam 6 pagi dan tiba di Tangkuban Perahu jam 10. Waktu yang tepat karena rombongan dari Roger Bagen pun tiba bersamaan dengan kami.

Briefing sekitar 10 menit. Selanjutnya kami menikmati pemandangan kawah Tangkuban Perahu sambil narsis-narsis dahulu.

Selesai bernarsis ria akhirnya kami turun menyusul teman-teman yang sudah lebih dahulu memasuki hutan Jayagiri. Sontak, yang tadinya hutan sunyi senyap langsung berubah ramai. Puluhan goweser menyisir jalan-jalan setapak, menerobos kedalam semak belukar.

Sayang. Lagi-lagi trip memakan korban sepeda. Anting RD Om Joko patah terkena akar pohon untungnya masih bisa diakali dan dijadikan single speed. Yang penting masih bisa di gowes om…

Para goweser benar-benar dimanjakan oleh trek yang sangat teknikal apalagi bagi pecinta jalan turun. Beberapa turunan sangat curam, sehingga beberapa goweser terjatuh bahkan ada yang menabrak pohon di depan turunan tersebut.

Sangat sesuai memang dengan yang saya harapkan, lebih banyak turunannya. Hampir semua trek bisa dilalui sepeda, sampai-sampai tangan ini pegal dan hampir kram karena terus menekan rem. Secara tak sengaja ketika beristirahat di tengah hutan menunggu giliran turun, jari saya menyentuh disc brake roda depan dan merasakan panas disekitar disc brake dan kalipernya.

Gebrag(k)ers

Gebrag(k)ers

Bagaimana dengan yang menggunakan rem v-brake ya? Bisa terkikis habis. Dan memang sesuai dengan apa yang disarankan Om Blacken di milis sebelum keberangkatan harus menyiapkan ekstra tambahan karet rem v-brake bagi yang menggunakan rem v-brake.

Diujung hutan sebelum turun ke Lembang. kami istirahat menunggu teman yang lain dibelakang. Ada satu yang saya suka disini. Persis setelah keluar turunan dari hutan pinus ada beberapa tanggul gundukan tanah. Yap… mencoba-coba jumping akhirnya berhasil juga hingga tiga kali jumping.

Bisik-bisik terdengar dari para Roger yang cekikikan, mereka menceritakan Om Tutuy yang menabrak Tante Desy. Entah bagaimana kejadiannya tapi sepertinya seru sekali terlihat dari percakapan mereka sambil tertawa-tawa.

Sekitar jam 1-an kami turun ke Lembang dan singgah untuk istirahat dan shalat Dzuhur di Masjid Raya Lembang. Usai shalat perjalanan dilanjutkan, kali ini trek melalui jalan menanjak melewati Observatorium Bosscha. Sesampainya di puncak bukit..ya..ya…narsis lagi-narsis lagi.

Narsis dulu

Narsis dulu

Trek memang penuh kesenangan dan trip memang untuk senang-senang. Setelah bernarsis ria kami kembali menuruni bukit. Diatas bukit terbuka sepeda meluncur deras kebawah. Trek tanah yang gowesable dan membentuk tanggul-tanggul kecil makin menambah nikmat turunan di bukit ini.

Bukit tersebut adalah single trek terakhir. Selanjutnya gowes menuju jalan kota Bandung. Tepatnya di Eldorado Robek dan Roger Bagen berpisah. Robek mengambil jalur on road sedangkan Roger Bagen mengambil jalur offroad Pondok Hijau.

Memang sudah menjadi ciri khas kota besar, “macet”. Di sepanjang jalan kota Bandung dimana-mana ada kemacetan hanya yang bersepeda saja yang tidak terjebak kemacetan, bisa dengan lincah menghindari kemacetan tersebut. Memang sudah saatnya kita harus beralih kendaraan sepeda atau paling tidak menggunakan kendaraan umum dan mengurangi kendaraan bermotor pribadi yang makin menyesakkan jalan-jalan kota besar.

Sebelum akhirnya kami menuju ke Pasir Koja tempat bus dan truk menunggu, lagi-lagi narsis dan narsis. Kali ini di Bandung KM 0 yang dijadikan lokasi narsis. Mumpung ada kesempatan foto-foto disini, besok besok mah belum tentu bisa, begitu kira-kira segelintir kata dari teman-teman.

Bandung KM 0

Bandung KM 0

Sampai di Pasir Koja sekitar jam 6-an. Reloading sepeda dan berkemas pulang. Sampai di rumah BTR jam 10 malam, untungnya perjalanan kali ini saya tidak berperan jadi orang susah yang banyak menghabiskan karbohidrat dan lemak dan yang pasti kecemasan karena anemia terlewat sudah.

Terima kasih untuk teman-teman Robek terutama EO-nya atas tripnya, untuk teman-teman Roger Bagen, Ustad Amri, Om Bayu Wahyudi serta teman-teman Bandung lainnya.

Foto-foto :

http://cahyadir.multiply.com/photos/album/21/ROBEK_ROGER_BAGEN_Down_Hill_Tangkuban_Perahu_-_Eldorado

http://b2wrobek.multiply.com/photos/album/39

http://dodol76.multiply.com/photos/album/22/Bersepeda_di_alam_dengan_istri_siapa_takut

http://iwanqq.multiply.com/photos/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: