GOWES DI BANJARMASIN TERNYATA…….!

Sudah lama banget ga gowes lagi, terakhir gowes sewaktu offroad ke Tangkuban Perahu bersama teman-teman Robek tanggal 9 May 2009 lalu, bahkan sekarang sudah ga lagi bike to work semenjak ada renovasi parkiran dikantor yang tempatnya semakin jauh, jadi khawatir jika membawa sepeda gunung dan rencana kedepan mau bawa sepeda federal yang sekarang masih di Ciputat.

Sabtu minggu yang biasanya suka ngaprak di sekitar Bekasi bersama teman-teman satu komplek atau teman-teman dari Asem ini juga tidak lagi, mesti ternak teri dan berbagai kesibukan aktivitas lainnya. Jadi hampir sebulan ini tak ada aktivitas gowes.

Saking lamanya tidak gowes timbul perasaan rindu gowes yang menggebu-gebu. “Pokoknya minggu ini saya harus gowes, mau jauh keq, deket keq, lama keq, sebentar keq, pokoknya harus genjot” Pikir saya dengan pasti.

Padahal hari Sabtu ini saya juga sudah dapat giliran melakukan aktivitas rutin warga hingga subuh… (halah beribet banget ngomongnya bilang aja ronda gitu…:D). Biasa-biasanya sehabis nge-ronda malah males bangun pagi, “Ah…pokoknya kali ini harus bangun pagi dan bisa genjot” Mantap saya dalam hati.

Wal hasil, raga yang sudah demam gowes akhirnya kesampaian juga. Tak tanggung-tanggung malah saya sampai di Banjarmasin – Kalimantan Selatan. Saya tak pernah habis pikir bila saya ternyata bisa sampai ada disini, jika demikian ini adalah rekor terbaru saya gowes terjauh bahkan hingga keluar pulau Jawa.

Setelah meninggalkan Bandara Syamsuddin Noor di Banjarmasin, sepeda saya gowes menuju daerah perkampungan. Gowes sendiri ternyata tak mengecilkan hati saya lagipula sudah biasalah gowes sendiri apalagi kalau bike to work.

Ketika akan memasuki single trek tiba-tiba saya melihat ada seorang goweser dan sepertinya saya mengenal dia. Betul saja itu Pak Tri tetangga satu komplek. Tumben-tumbenan dia gowes hingga sejauh ini padahal sebelumnya paling susah kalau diajakin gowes jauh. Saya berpikir ini pasti ada yang aneh…

Saya memanggil beliau dari kejauhan. “Pak Tri lewat sini pak”. Maka diapun merubah arah tujuannya dan bergabung bersama saya.

Di tengah perjalanan tiba-tiba kami bertemu dengan Om Aris dari Roger Bagen. Saya amati koq si Om sendirian saja dan sepertinya dia sedang memperbaiki sepedanya yang rusak. Saya makin merasakan keanehan lagi.

Setelah Om Aris memperbaiki sepedanya kamipun melanjutkan gowes. “Teman-teman yang lain sudah menunggu diwarung, kita susul mereka kesana” Ajak Om Aris kepada saya dan Pak Tri.

Benar saja, di sebuah pertigaan jalan ada sebuah warung. Disana sudah banyak berkumpul para goweser. Teman-teman dari Roger, teman-teman dari komunitas sepeda di Banjarmasin dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata disitu ada beberapa teman dari komunitas Robek.

“Aneh…biasanya kalau Robek mengadakan touring selalu ada woro-woro dulu dimilis, ini koq saya ga tahu apa saya ketinggalan berita…?” Saya makin bingung dan tak berhenti berpikir.

Setelah semua rombongan berkumpul, kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan. Waktupun terus berputar dan hari menjelang sore. Akhirnya sampai juga kami kembali kedaerah pemukiman penduduk. Disebuah warung lagi kami istirahat dan mengisi persediaan.

Tiba-tiba saya teringat akan keluarga di rumah dan tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama. Akhirnya saya pamitan kepada teman-teman dan memisahkan diri dari rombongan. Gowes boleh jauh, tetapi keluarga tetap prioritas utama. Tak baik bagi saya bila gowes sampai menginap dan meninggalkan istri dan anak dirumah.

Sepeda terus saya kayuh hingga akhirnya sampailah saya dipemukiman padat penduduk. Ketika saya menengadahkan kepala keatas saya lihat banyak pesawat hilir mudik mendarat dan lepas landas. Sudah mau sampai bandara lagi, pikir saya.

Ternyata saya kesulitan mencari jalan keluar menuju bandara. Setiap jalan di pemukiman padat penduduk itu ujung-ujungnya jalan buntu dan memaksa saya memutar arah lagi. Pada suatu gang saya melihat pesawat itu sangat dekat sekali hampir-hampir menyentuh atap rumah penduduk dan ketika ada sebuah helicopter hendak mendarat baling-balingnya menyentuh sebuah parabola diatas rumah penduduk. Anehnya parabola itu tidak mengalami kerusakan. Benar-benar tak habis pikir saya…

Saya lihat matahari makin berwarna kemerahan tanda hari makin sore, namun setelah berputar-putar masih saja saya tak menemukan jalan menuju bandara. Maka timbulah panik di benak saya.

Berusaha dan terus berusaha dan pada akhirnya saya mendapatkan jalan menuju bandara. Matahari telah tenggelam hanya sinarnya saja yang masih berarak-arak diatas langit. Kepanikan saya makin menjadi-jadi, khawatir tertinggal jadwal pesawat tentunya.

Ditengah kepanikan itu justru saya malah menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Hanya melihat-lihat disekeliling dan sesekali merogoh kantong celana melihat jam di handphone.

Sudah dead line, saya terlambat berangkat ke Jakarta. Saya makin bingung dan kacau pikiran saya.

Ditengah kepanikan tersebut tiba-tiba seseorang memanggil saya; “Yah, udah mau jam 12 tuh solat Dzuhur dulu”.

Saya coba membuka mata saya dan melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11.55 WIB dan sejenak saya coba menyadarkan diri saya. Ah, gowes di Banjarmasin ternyata cuma mimpi….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: