NEWBIE YANG JADI SAKTI

Baru pertama kali bertemu dan gowes bareng waktu itu pak Muji langsung saya ajak ke Bondol. Nyasar-nyasar karena tak hafal jalan tapi pak Muji begitu menikmati bahkan berterima kasih sekali karena sudah dikenalkan dengan trek sepeda yang sesungguhnya. Waktu itu tak nampak kelelahan yang amat sangat padanya, bahkan saya yang mengajaknya saja cukup merasakan lelah.

Belum lama ini kami bertemu lagi di Asem setelah semalamnya janjian di sms. Mau ke Bondol lagi katanya, tapi kali ini bareng bersama teman-teman yang lain.

Esok paginya jam 8 kami bertemu di Asem. Sudah tiba lebih dulu disana Cak Ipul, Iwan Pekayon, Pak Muji dan tak berapa lama rombongan dari Narogong Pak Santoso, Iwan Narogong dan dua teman lainnya menyatakan akan ikut serta ke Bondol.

Jam 9 kami start dari Asem, tak ingat jumlah pastinya yang ikut saat itu, mungkin ada sekitar 9 atau 10 orang yang akan ikut. Road captain di pimpin Cak Ipul.

Bagi yang sudah pernah gowes bareng Cak Ipul jangan heran kalau tak siap mental dan fisik harus terima ditingal ngebut. Minimal kecepatan 20kpj tak peduli itu jalan datar, turunan atau tanjakan.

Belum jauh meninggalkan Asem saya lihat sudah banyak yang tercecer dibelakang, Cak Ipul dan beberapa teman didepan tak menoleh sedikitpun kebelakang. Selepas desa Burangkeng hanya 6 goweser yang tersisa, saya termasuk yang paling belakang.

Yang mengejutkan bagi saya adalah Pak Muji. Tak menyangka ternyata dia bisa mengimbangi irama gowesan Cak Ipul. Posisinya masih merapat di urutan ke empat, gowesannya stabil hanya mungkin teknik-tekniknya belum dia kuasai semua.

Ketika memasuki desa Cileduk saya sudah tertinggal sangat jauh bahkan saya sudah merasa pesimis tak sanggup lagi mengimbangi dan mengejar mereka. Kedepan saya lihat tiba-tiba Pak Muji melambatkan laju gowesannya mungkin bermaksud menunggu saya namun sayang yang lainnya tak menunggu akhirnya ketika saya berhasil mendekati posisi Pak Muji kami kehilangan jejak Cak Ipul dan teman lainnya.

Bertanya kependuduk setempat tak ada hasilnya, mau di teruskan ke Bondol saya merasa segan karena masih tak hafal juga rute kesana. Akhirnya saya mengajak Pak Muji balik arah ke Cisaat “nongkrong” di Haji Itoh. Pak Muji setuju walau sangat disayangkan momen yang begitu bagus bisa kebut-kebutan harus kandas ditengah jalan karena menunggu saya.

Di tengah perjalanan kami sedikit berbagi cerita dan saling bertanya perkembangan gowes terakhir. Melihat perkembangan Pak Muji menurut saya begitu menakjubkan karena ia tergolong orang yang jarang bergabung dalam sebuah komnuitas sepeda dan lebih sering bersepeda sendiri.

Ketika sampai di Haji Itoh ia melanjutkan ceritanya. Tiap hari selalu diawali dengan gowes minimal 20km, jika tak keliling Bekasi maka parkiran Bekasi Square jadi sasarannya. Turun naik sekedar cari keringat katanya.

Kepelabuhan Ratu pun pernah ia lakukan sendiri dengan menempuh perjalanan dua hari dua malam pulang pergi. Kagum saya mendengar ceritanya. Mungkin belum ada enam bulan bersepeda dan usianya pun yang tak muda lagi tapi semangatnya tetap muda.

Tak heran karenanya ia bisa mengimbangi para Master Asem Bike. Bahkan hal ini membuat saya malu pada diri sendiri. Sudah lama berguru kemana saja tak juga bertambah kesaktian melawan Master Asem Bike.

Salut untuk Pak Muji; newbie yang menjadi sakti tanpa perlu berkompetisi di televisi (Eh ngga nyambung deh tulisan terakhir ini, ah udah dulu ah nulisnya …puyeeengngng…:P)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: